A. IDENTITAS
Nama :
Desi Hartina
Npm :
15320040
Kelas :
Biologi A
Prodi :
Pendidikan Biologi
Mata kuliah :
Telaah Biologi SMP
Semester :
3
Dosen pengampu :
Bapak Agil Lepiyanto,M.Pd
B. KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur kami panjatkan kepada Allah SWT , Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan
karunia-Nya , kami dapat menyelesaikan tugas jurnal Telaah Biologi SMP. Tanpa
ridha dan kasih sayang serta petunjuk dari-Nya mustahil tugas ini dapat
terselesaikan . Kami tidak hanya bersyukur kepada-Nya saja tetapi kami
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu kami . Kami
membuat jurnal ini bertujuan untuk menyelasaikan tugas yang diberikan oleh
dosen . Dari pembuatan jurnal ini tidak hanya menyelesaikan tugas , tetapi
bertujuan menambah pengetahuan dan wawasan kita yang berkaitan dengan
Kelangsungan Hidup Organisme. Kiranya jurnal ini bisa menambah pengetahuan bagi
pembaca . Meski begitu , penulis sadar bahwa jurnal ini perlu untuk dilakukan
perbaikan dan penyempurnaan . Untuk itu , saran dan kritik yang membangun dari
pembaca akan kami terima dengan senang hati.
Metro, 19
Desember 2016
Desi Hartina
C. SUBTANSI KAJIAN
1. Pengertian
dan kelangsung hidup
2. Adaptasi
3. Seleksi alam
4. Perkembangbiakan
makhluk hidup
D. REVIEW PEMBELAJARAN
A. Pengertian
Kelangsungan Hidup
Kita ketahui bahwa tidak ada
makhluk hidup di muka bumi ini yang mampu bertahan hidup tanpa mengalami
kematian, karena setiap makhluk hidup memiliki waktu kehidupan atau umur yang
terbatas. Misalnya umur pohon kelapa jauh lebih lama daripada umur pohon
jagung. Bagaimanapun sempurnanya perawatan suatu tanaman, jika tanaman tersebut
telah mencapai batas usia maksimal maka akan mati. Pada pohon pisang, setelah
berbuah bisa dipastikan akan segera mati. Namun, jika kamu amati dengan
seksama, sebelum berbuah dan akhirnya mati, pohon pisang tersebut menumbuhkan
tunas baru pada bagian bonggolnya. Tumbuhnya tunas tersebut mengakibatkan
tanaman pisang tetap terjaga kelangsungan hidupnya, meskipun induk pohon pisang
telah mati. Pertumbuhan pohon pisang silih berganti secara alamiah. Hal
tersebut tentunya juga terjadi pada makhluk hidup lain termasuk hewan dan
manusia.
Setiap makhluk hidup telah
dibekali oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kemampuan untuk mempertahankan
hidupnya dan menjaga keturunannya supaya tetap lestari. Tetapi, karena
keserakahan makhluk hidup yang lebih tinggi tingkatnya dan ketidakpedulian
manusia akan kelestarian lingkungan hidup telah merusak ekosistem yang baik.
Telah
menjadi hukum alam bahwa makhluk yang lemah akan dimangsa oleh makhluk yang lebih kuat, atau yang kita kenal dengan hukum rimba.
menjadi hukum alam bahwa makhluk yang lemah akan dimangsa oleh makhluk yang lebih kuat, atau yang kita kenal dengan hukum rimba.
Setiap jenis makhluk hidup
dapat lestari jenisnya sampai saat ini karena berasal dari makhluk hidup
sebelumnya yang sejenis dapat bereproduksi dan berdaptasi dengan lingkungan.
Jika makhluk yang hidup pada zaman dulu tidak mampu bertahan dalam kelangsungan
hidupnya, maka jenis makhluk hidup itu akan punah seperti dinosaurus.
Kelangsungan hidup organisme dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi terhadap
lingkungan, seleksi alam, dan perkembangbiakan.
B. Adaptasi
1. Pengertian
Adaptasi adalah kemampuan
makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Ada beberapa
cara penyesuaian diri yang dapat dilakukan, yaitu dengan cara penyesuaian
bentuk organ tubuh, penyesuaian kerja organ tubuh, dan tingkah laku dalam
menanggapi perubahan lingkungan. Dari pengertian adaptasi tersebut, ada tiga
macam bentuk adaptasi, yaitu:
a. adaptasi fisiologi
b. adaptasi tingkah laku,
c. adaptasi morfologi.
a. adaptasi fisiologi
b. adaptasi tingkah laku,
c. adaptasi morfologi.
Adaptasi terlihat dari
adanya perubahan bentuk luar atau dalam suatu makhluk hidup sesuai dengan
situasi dan kondisi lingkungan tempat hidupnya. Perubahan ini bersifat tetap
dan khas untuk setiap jenis sehingga bisa diwariskan kepada keturunannya.
2. Jenis-jenis
Adaptasi
a. Adaptasi fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah
penyesuaian diri makhluk hidup melalui fungsi kerja organ-organ tubuh supaya
bisa bertahan hidup. Adaptasi ini berlangsung di dalam tubuh sehingga sulit
untuk diamati.
Ikan air laut menghasilkan urine
yang lebih pekat dibandingkan dengan ikan sungai. Ikan air laut menghasilkan
urine lebih pekat dibandingkan dengan ikan sungai. Hal ini dikarenakan kadar
garam air laut
lebih tinggi dari pada kadar garam air tawar. Tingginya kadar garam menyebabkan ikan kekurangan air sehingga ikan harus banyak minum. Akibatnya, kadar garam dalam darahnya menjadi tinggi sehingga untuk mengurangi kepekatan cairan dalam tubuhnya, ikan mengeluarkan urine yang pekat.
lebih tinggi dari pada kadar garam air tawar. Tingginya kadar garam menyebabkan ikan kekurangan air sehingga ikan harus banyak minum. Akibatnya, kadar garam dalam darahnya menjadi tinggi sehingga untuk mengurangi kepekatan cairan dalam tubuhnya, ikan mengeluarkan urine yang pekat.
Kekebalan serangga terhadap
insektisida akan meningkat (menjadi kebal) karena penggunaan insektisida secara
terusmenerus.
Hewan-hewan herbivor
beradaptasi terhadap makanan secara fisiologis. Sapi, kambing, kerbau, dan
domba merupakan hewan herbivor yang dapat mencerna zat makanan di dalam
lambung. Rayap dan Teredo navalis yang hidup di kayu galangan kapal dapat
mencerna kayu dengan
bantuan enzim selulose.
bantuan enzim selulose.
Selain hewan, manusia dan
tumbuhan dapat beradaptasi dengan lingkungannya secara fisiologi. Tubuh manusia
mampu menambah jumlah sel darahmerah apabila berada di pegunungan yang lebih
tinggi. Hal tersebut dapat mengikat oksigen lebih banyak untuk mencukupi
kebutuhan sel-sel tubuh.
Mata manusia dapat
menyesuaikan dengan intensitas cahaya yang diterimanya. Ketika di tempat gelap,
maka pupil kita akan membuka lebar. Sebaliknya di tempat yang terang, pupil
kita akan menyempit. Melebar atau menyempitnya pupil mata adalah upaya untuk
mengatur intensitas cahaya.
Jumlah sel darah merah orang
yang hidup di daerah pantai lebih sedikit dibandingkan orang yang tinggal di
daerah pegunungan. Hal ini disebabkan karena tekanan parsial oksigen di daerah
pantai lebih besar dibandingkan daerah pegunungan. Jika tekanan parsial oksigen
rendah, maka dibutuhkan lebih banyak sel darah merah untuk mengikat oksigen.
Tekanan parsial oksigen adalah perbandingan kadar oksigen di udara dibandingkan
dengan kadar gas lain di udara.
Bau yang khas pada bunga
dapat mengundang datangnya serangga untuk membantu penyerbukan. Bunga jenis ini
menghasilkan madu atau nectar, dan serbuk sarinya mudah melekat. Akar dan daun
pada tumbuhan tertentu dapat menghasilkan zat kimia yang berbau khas yang dapat
menghambat tumbuhan lain di dekatnya. Contoh di atas termasuk dalam adaptasi
fisiologi.
b. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah
penyesuaian diri terhadap lingkungan dengan mengubah tingkah laku supaya dapat
mempertahankan kelangsungan hidupnya. Adaptasi tingkah laku dapat berupa hasil
belajar maupun insting/naluri sejak lahir. Terdapat dua macam tingkah laku,
yaitu sebagai berikut.
1) Tingkah laku sosial, untuk hewan yang hidup berkelompok.
2) Tingkah laku untuk perlindungan. Contohnya babi hutan akan menggali lubang persembunyian dengan kukunya ketika melihat singa, trenggiling akan menggulung tubuhnya bila bertemu musuh. Contoh lain adalah kamuflase, misalnya pada bunglon dan gurita.
1) Tingkah laku sosial, untuk hewan yang hidup berkelompok.
2) Tingkah laku untuk perlindungan. Contohnya babi hutan akan menggali lubang persembunyian dengan kukunya ketika melihat singa, trenggiling akan menggulung tubuhnya bila bertemu musuh. Contoh lain adalah kamuflase, misalnya pada bunglon dan gurita.

Mimikri adalah kemampuan
untuk meniru bentuk, suara, dan tingkah laku seperti hewan lain sehingga akan
dikira predator atau hewan yang beracun atau berbahaya. Migrasi juga merupakan
bentuk adaptasi tingkah laku dengan cara bergerak dari satu kawasan ke kawasan
lain dan kemudian kembali lagi. Hewan bermigrasi dengan berbagai alasan antara
lain memperoleh iklim yang baik, makanan yang cukup, tempat yang lebih aman,
dan kepentingan perkembangbiakan.
Hewan yang hidup di daerah
kutub atau daerah yang mengalami pergantian empat musim yang perbedaan suhunya
ekstrim, biasanya melakukan hibernasi. Hibernasi adalah tidur dalam jangka
waktu yang lama ketika suhu lingkungan rendah. Aktivitas tubuh seperti denyut
jantung dan napas sangat pelan sehingga hanya memerlukan energi/makanan yang
sedikit. Contohnya kelelawar, ular, dan beruang kutub. Selama hibernasi hewan
menggunakan lemak dalam tubuh sebagai sumber energi.
Kucing mengincar mangsanya
dengan cara mendekam. Ketika mangsa mendekat dan lengah, maka kucing akan
meloncat dan menerkam mangsanya. Tingkah laku demikian untuk menghemat energi.
Lain halnya dengan cicak. Cicak akan memutuskan ekornya pada saat berada
dalam ancaman. Paus naik ke permukaan air ketika akan mengambil oksigen untuk pernapasannya. Hewan rayap itu buta, untuk menemukan jalan dia membuat terowongan dari tanah yang dapat menuntunnya menuju ke tempat makanan atau sarangannya.
dalam ancaman. Paus naik ke permukaan air ketika akan mengambil oksigen untuk pernapasannya. Hewan rayap itu buta, untuk menemukan jalan dia membuat terowongan dari tanah yang dapat menuntunnya menuju ke tempat makanan atau sarangannya.
c. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah
penyesuaian makhluk hidup melalui perubahan bentuk organ tubuh yang berlangsung
sangat lama untuk kelangsungan hidupnya. Adaptasi ini sangat mudah dikenali dan
mudah diamati karena tampak dari luar.
Meskipun hewan dapat
bergerak bebas, hewan juga melakukan beragam adaptasi morfologi untuk menyesuaikan
dengan tempat hidup dan jenis makanannya. Adaptasi morfologi berupa penyesuaian
tubuh hewan seperti ukuran dan bentuk gigi, penutup tubuh, dan alat gerak
hewan. Gigi disesuaikan dengan jenis makanannya, sehingga gigi hewan pemakan
daging berbeda dengan hewan pemakan tumbuhan. Penutup tubuh seperti rambut,
duri, sisik, dan bulu yang tumbuh dari kulit disesuaikan dengan kondisi
lingkungannya sehingga dapat membantu hewan untuk tetap bertahan hidup. Contoh
yang lain adalah variasi tulang belakang dan sirip pada ikan pari disebabkan
perbedaan suhu saat pertumbuhannya, jenis kelamin kura-kura ditentukan oleh
variasi temperatur saat inkubasi (pengeraman), serta bentuk paruh dan kaki
burung bervariasi sesuai dengan jenis makanan dan habitatnya.
Burung kolibri
memiliki paruh panjang dan runcing. Paruh ini digunakan untuk menghisap madu.
Serangga juga beradaptasi dengan lingkungan melalui bentuk organ
tubuhnya. Organ tubuh jangkrik dan belalang yang digunakan untuk
beradaptasi adalah mulut. Mulut kedua hewan tersebut mempunyai rahang bawah dan
atas yang kuat.
Selain hewan, tumbuhan juga
beradaptasi dengan lingkungannya melalui bentuk tubuhnya, yaitu:
1) Tumbuhan Xerofit
Tumbuhan xerofit memiliki
struktur fisik yang sesuai untuk bertahan hidup pada suhu yang ekstrim panas
dan kekurangan air. Contohnya adalah kaktus dan sukulen. Kaktus dapat bertahan
hidup dalam kondisi kering.
Bentuk adaptasinya yaitu
daun tidak berbentuk lembaran sebagaimana tumbuhan lainnya, tetapi mengalami
modifikasi menjadi duri atau sisik. Kaktus mampu menyimpan air pada batangnya.
Seluruh permukaannya dilapisi oleh lilin untuk mengurangi penguapan. Sistem
perakarannya panjang untuk mencapai tempat yang jauh yang mengandung air.
2) Tumbuhan Hidrofit
Tumbuhan hidrofit adalah
tumbuhan yang hidup di air. Adaptasi morfologi yang dilakukan antara lain
memiliki rongga udara di antara sel-sel tubuhnya sehingga dapat mengapung.
Daunnya lebar dan stomata terletak di permukaan atas. Contoh tumbuhan hidrofit
adalah kangkung, eceng gondok, dan teratai.
3) Tumbuhan Higrofit
Tumbuhan higrofit adalah
tumbuhan yang hidup di lingkungan lembab dan basah. Adaptasinya yaitu mempunyai
daun yang tipis dan lebar.
C. Seleksi Alam
Dalam kehidupan sehari-hari,
seleksi berarti pemilihan, dan alam
berarti segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup. Jadi, seleksi alam adalah pemilihan makhluk hidup yang dapat hidup terus dan tidak dapat hidup terus yang dilakukan oleh lingkungan sekitar dan terjadi secara alamiah. Bisa juga diartikan sebagai musnahnya beberapa makhluk hidup karena tidak dapat menyesuaikan diri.
berarti segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup. Jadi, seleksi alam adalah pemilihan makhluk hidup yang dapat hidup terus dan tidak dapat hidup terus yang dilakukan oleh lingkungan sekitar dan terjadi secara alamiah. Bisa juga diartikan sebagai musnahnya beberapa makhluk hidup karena tidak dapat menyesuaikan diri.
1. Faktor penyeleksi
alam
Seleksi alam ditentukan oleh
beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
a. Suhu lingkungan
Di daerah dingin dijumpai
hewan-hewan mamalia yang
berbulu tebal, sedangkan di daerah tropis hewan mamalianya berbulu tipis. Dalam hal ini, yang menjadi faktor penyeleksi adalah suhu lingkungan. Karena hewan mamalia yang berbulu tipis umumnya tidak akan bisa menyesuaikan diri pada lingkungan yang bersuhu sangat rendah sehingga hewan tersebut akan tereliminasi dan punah. Beruang kutub berbulu tebal untuk membuatnya tetap hangat. Selain bulunya, beruang kutub juga mempunyai lapisan lemak yang digunakan untuk
menghangatkan tubuhnya.
berbulu tebal, sedangkan di daerah tropis hewan mamalianya berbulu tipis. Dalam hal ini, yang menjadi faktor penyeleksi adalah suhu lingkungan. Karena hewan mamalia yang berbulu tipis umumnya tidak akan bisa menyesuaikan diri pada lingkungan yang bersuhu sangat rendah sehingga hewan tersebut akan tereliminasi dan punah. Beruang kutub berbulu tebal untuk membuatnya tetap hangat. Selain bulunya, beruang kutub juga mempunyai lapisan lemak yang digunakan untuk
menghangatkan tubuhnya.
b. Makanan
Setiap makhluk hidup
memerlukan makanan. Makanan adalah kebutuhan primer makhluk hidup. Makanan akan
menjadi faktor penyeleksi jika terjadi perebutan makanan. Makhluk hidup yang
kuat dan mempertahankan makanannya akan dapat berlangsung hidup, sebaliknya
hewan yang lemah dan tidak mampu bersaing dalam perebutan makanan akan
tereliminasi dan punah.
c. Cahaya matahari
Faktor matahari berhubungan
dengan penyeleksian tumbuhan tingkat tinggi yang berklorofil. Karena tumbuhan
menggunakan cahaya matahari untuk pembentukan makanan.
2. Kepunahan makhluk
hidup
Berdasarkan temuan
fosil-fosil, dapat diketahui bahwa banyak jenis makhluk hidup yang hidup pada
jaman dahulu tidak ditemukan lagi sekarang. Tetapi ada juga yang masih hidup
sampai sekarang yaitu capung. Capung adalah hewan yang hidup pada jaman karbon
sampai sekarang. Hewan lain yang hampir mirip dengan hewan yang telah punah
adalah kadal dan komodo. Ketiga hewan tersebut adalah hewan yangtergolong dalam
fosil hidup.
Dinosaurus merupakan contoh
hewan yang telah punah. Para ilmuan berpendapat bahwa yang menyebabkan
kepunahan hewan ini adalah perubahan iklim. Iklim yang terganggu akan
menyebabkan kematian banyak jenis tumbuhan sehingga dinosaurus herbivor tidak
bisa mendapatkan makanan. Sedangkan Dinosaurus karnivor dapat bertahan hidup
untuk sementara. Tetapi dengan berjalannya waktu, hewan karnivorpun mati.
Saat ini, tingkah laku
manusia banyak mempengaruhi proses seleksi alam. Perburuan liar, penangkapan,
perusakan habitat, pencemaran lingkungan dapat mempercepat laju seleksi yang
tidak alami. Akibat rusaknya habitat, banyak hewan liar yang harus bermigrasi
ke daerah yang kurang sesuai dengan lingkungan alaminya. Mereka harus berjalan
berkilo-kilometer untuk memperoleh makanan yang cukup.
Di Indonesia, terdapat
banyak tumbuhan dan hewan yang hampir punah. Contohnya adalah harimau jawa,
badak bercula satu, badak bercula dua, dan burung jalak bali. Hewan yang hampir
punah tersebut disebabkan karena kerusakan habitat oleh manusia, perburuan
liar, kemampuan adaptasinya rendah, serta tingkat reproduksi yang rendah.
D. Perkembangbiakan
Makhluk Hidup
Perkembangbiakan makhluk
hidup dapat dipergunakan untuk melangsungkan kehidupan. Karena bila tanpa
perkembangbiakan, maka makhluk hidup akan punah. Misalkan pada suatu perkebunan
terdapat populasi belalang yang terkena radiasi, sehingga belalang jantan
menjadi mandul dan tidak dapat melakukan perkawinan dengan belalang betina.
Ketidakmampuan belalang untuk berkembang biak akan menyebabkan belalang di
perkebunan tersebut punah. Jadi, belalang tersebut tidak dapat menjaga
kelestarian jenisnya karena tidak mampu berkembang biak.
Makhluk hidup ada yang
mempunyai daya berkembang biak tinggi dan rendah. Makhluk hidup yang mempunyai
daya berkembang biak tinggi akan mudah menjaga kelestarian hidupnya. Misalnya
tikus, kucing, ilalang, dan enceng gondok.
Makhluk hidup yang mempunyai
daya berkembang biak rendah sangat sulit menjaga kelangsungan dan kelestarian
jenisnya. Misalnya gajah, hanya beranak sekali dalam dua tahun dan setiap kali
beranak hanya seekor. Demikian pula badak, komodo, kancil, burung merak,
jerapah, harimau, dan ikan paus biru yang hanya menghasilkan dua anak dalam
waktu 10 tahun. Hewan yang memiliki daya berkembang biak rendah merupakan
hewan-hewan yang terancam kelestariannya.
Selain hewan, tumbuhan juga dilindungi
oleh negara karena kelangkaan dan daya berkembang biaknya rendah.
Misalnya tumbuhan yang dilindungi oleh negara adalah bunga bangkai (Refflesia
Arnoldi), anggrek bulan Ambon, kemang, kepuh, kayu ulin Kalimantan,
kemenyan, dan gaharu dilindungi oleh negara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar