Identitas
Nama :
Hendra Gunawan
NPM : 15320011
Prodi : Pendidikan Biologi
Kelas : Biologi A
Mata Kuliah : Telaah Biologi SMP
Materi : Bioteknologi
Dosen Pengampu : Dr. Mufahroyin M.Ta dan Agil Lepiyanto ,M.Pd
Pertemuan : Kelima Belas
NPM : 15320011
Prodi : Pendidikan Biologi
Kelas : Biologi A
Mata Kuliah : Telaah Biologi SMP
Materi : Bioteknologi
Dosen Pengampu : Dr. Mufahroyin M.Ta dan Agil Lepiyanto ,M.Pd
Pertemuan : Kelima Belas
Pengantar
Assalamualaikum, wr
wb.
Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
Rahmat, Taufik, Hidayah serta kekuatan kepada saya sampai saat ini,
sehingga saya dapat menyelesaikan jurnal mata kuliah “Telaah Biologi SMP”.
Penyusunan ringkasan materi ini adalah sebagai bukti bahwa saya telah
menyelesaikan tugas ringkasan materi Telaah Biologi SMP pertemuan ke-15 yang
diampu oleh bapak Dr. Mufahroyin M.Ta dan bapak Agil Lepiyanto ,M.Pd.
Saya menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan
jurnal ini. Dan saya mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca umumnya dan bagi saya.
Wassalamualaikum wr.wb
Metro, Desember 2016
Penulis
Substansi Kajian
a. Penerapan Bioteknologi Sederhana
b. Dampak Negatif Bioteknologi
c. Usaha Mengatasi Dampak Penerapan Bioteknologi
Review Pembelajaran
a. Penerapan
Bioteknologi Sederhana
Bioteknologi konvensional atau biasa juga disebut bioteknologi tradisional
adalah suatu penerapan bioteknologi yang telah digunakan sejak ilmu pengetahuan
masih belum berkembang pesat, penggunaannya terbatas pada peran organisme
melalui teknik fermentasi yang terjadi dalam skala kecil, dan prosesnya masih
sangat sederhana. Adapun beberapa contoh penerapan bioteknologi konvensional
dapat kita temui dalam proses pembuatan bahan pangan yang menerapkan teknik
fermentasi seperti tape, anggur, tempe, oncom, kecap, tauco, dan lain
sebagainya.
Bioteknologi Konvensional dalam Pengolahan Susu
1. Yogurt.
Camilan satu ini terbuat dari hasil fermentasi susu
oleh bakteri Streptococcus thermophillus dan Lactobasilus bulgaricus. Susu yang
biasa digunakan adalah susu hewan yang terlebih dahulu dipasteurisasi.
2. Keju.
Keju merupakan contoh penerapan bioteknologi
konvensional yang dilakukan melalui metode pengawetan susu. Metode ini sudah
dilakukan semenjak zaman Romai dan Yunani kuno. Keju dibuat dengan menambahkan
bakteri asam laktat pada susu. Bakteri asam laktat tersebut misalnya Pripioni
bacterium (untuk keju keras), Penicilium roqueforti (untuk keju setengah
lunak), dan Penicilium camemberti (untuk keju keras). Adapun bakteri-bakteri
tersebut berfungsi sebagai mikrobia yang dapat mengubah laktosa (gula susu)
menjadi asam laktat yang padat dan menggumpal.
3. Mentega.
Mentega contoh produk bioteknologi konvensional yang
dihasilkan dari fermentasi krim susu menggunakan bakteri Streptococcus lactis.
Bakteri ini dapat memisahkan tetesan mentega yang berlemak dengan cairan yang
terkandung di dalamnya.
Ø Bioteknologi Konvensional dalam Bidang
Pangan
1. Tapai atau tape
Dibuat melalui fermentasi ketan atau singkong
menggunakan jamur Saccharoyces cerevisiae. Jamur ini merubah glukosa pada bahan
menjadi asam asetat, energi, alkohol dan karbondioksida.
2. Tempe dan oncom
Tempe dibuat melalui fermentasi kedelai menggunakan
bantuan jamur Rhizopus sp. yang dapat merubah protein kompleks dari kedelai
menjadi asam amino, oncom hitam dibuat dari fermentasi ampas tahu menggunakan
jamur Neurospora crassa, sedangkan oncom hitam dibuat dari fermentasi bungkil
kacang tanah menggunakan jamur Rhizopus oligosporus.
3. Roti
Roti terbuat dari bahan utama berupa tepung terigu.
Agar adonan roti dapat mengembang, para pembuatnya biasanya akan menambahkan
ragi roti atau Saccharomyces cerevisiae. Selain membuat adonan roti lebih
mengembang, penambahan mikroorganisme ini juga membuat tekstur roti menjadi
lebih lembut dan tidak bantat.
4. Kecap dan tauco
Kecap terbuat dari kedelai yang ditambahkan dengan
jamur Aspergilus soyae dan Aspergilus wentii, sedangkan tauco terbuat dari
kedelau yang ditambai bakteri Aspergilus oryzae. Jamur-jamur ini merubah
protein kompleks kedelai menjadi asam amino yang lebih mudah dicerna oleh tubuh
manusia.
5. Minuman berakohol Anggur, wine, rum, sake
adalah beberapa contoh produk bioteknologi
konvensional yang menggunakan lebih dari satu mikroorganisme dalam proses
pembuatannya. Misalnya dalam produksi alkohol, pati dari ketan atau bahan
berkarbohidrat lainnya diubah menjadi glukosa menggunakan bantuan jamur
Aspergilus. Glukosa tersebut kemudian diubah menjadi etanol mengunakan bantuan
jamur Saccharomyces.
Ø Bioteknologi
Konvensional dalam Bidang Lainnya
1. Biogas
Biogas merupakan salah satu energi alternatif
pengganti minyak bumi yang dihasilkan melalui fermentasi kotoran ternak dan
bahan organik lainnya. Melalui fermentasi ini, bahan-bahan tersebut diubah
menjadi metana yang dapat berfungsi sebagai penghasil energi yang mirip gas
LPG.
2. Pengolahan Limbah
Sebelum dibuang ke perairan, limbah industri mengalami
serangkaian proses pengolahan untuk menurunkan tingkat pencemarannya.
Pengolahan limbah dewasa ini dilakukan menggunakan bantuan mikroba pengolah
limbah, misalnya Methanobacterium. Bakteri tersebut menguraikan limbah organik
menjadi karbondioksida, metana, dan hidrogen.
3. Obat-obatan
Contoh bioteknologi konvensional dapat pula ditemukan
dalam produksi obat-obatan. Jamur Penicillium sp. digunakan sebagai antibiotik
penisilin, antibiotik yang perannya sangat penting di dunia kesehatan untuk
mengobati penyakit-penyakit akibat infeksi patogen.
b. Dampak Negatif
Bioteknologi
1. Alergi
Dampak negatif bioteknologi yang pertama misalnya adalah terjadinya reaksi
alergi. Dampak ini timbul akibat penyisipan gen asing pada mahluk hidup yang
menjadi makanan manusia. Oleh karena itu, gen asing yang disisipkan melalui
rekayasa genetik perlu diuji dan diteliti dalam jangka waktu yang lama untuk
memastikan keamanannya bagi manusia. Contoh kasus alergi misalnya terjadi pada
konsumsi obat antibiotik pada ibu hamil yang bisa menyebabkan bayi dalam
kandungannya mengalami gangguan pertumbuhan.
2. Keracunan
Gen asing yang mengkontaminasi produk makanan seperti bakteri Burkholderia
cocovenenans pada pembuatan tempe bongkrek juga merupakan contoh dampak negatif
bioteknologi yang perlu diwaspadai. Efek dari racun biologis yang dihasilkan
bakteri ini bisa membuat terganggunya sistem pernafasan dan bahkan menyebabkan
kematian bagi orang yang mengkonsumsinya.
3. Kepunahan Plasma Nutfah
Keanekaragaman plasma nutfah secara berangsur-angsur mulai menurun akibat
adanya teknologi rekayasa genetik dalam memproduksi berbagai varian bibit
unggul tanaman. Varian lokal ditinggalkan karena petani lebih memilih
membudidayakan tanaman dengan penampilan fisik dan fisiologis yang lebih baik.
Ini merupakan dampak negatif bioteknologi yang juga perlu diwaspadai.
Pemberdayaan melalui konservasi plasma nutfah yang mulai punah akibat hadirnya
gen-gen unggul tanaman baru merupakan salah satu tindakan nyata yang dapat
dilakukan.
4. Kerusakan Ekosistem
Kondisi keseimbangan ekosistem juga mulai
terganggu dengan bioteknologi konvensional dan modern yang mulai diterapkan
dewasa ini. Contoh yang sudah terjadi misalnya tanaman kapas BT yang merupakan
hasil rekayasa genetik telah mampu membunuh hama ulat yang memakannya. Bukan
hanya itu, racun dalam tanaman unggul ini juga menyebabkan matinya banyak larva
kupu-kupu dan serangga-serangga lainnya yang tidak bertindak sebagai hama
tanaman.
5. Dampak Negatif Lainnya
Selain menimbulkan 4 dampak negatif di atas, bioteknologi juga telah
menyebabkan beberapa dampak lain yang antara lain:
1.
Terjadinya pencemaran biologis yang berupa penyebaran tak terkendali dari
organisme transgenik.
2.
Kerusakan tatanan sosial di masyarakat misalnya saat kloning pada manusia
tak terkendali lagi.
3.
Munculnya penyakit-penyakit baru maupun kerentanan terhadap penyakit
tertentu akibat pemanfaatan produk-produk transgenik.
c. Usaha Mengatasi
Dampak Penerapan Bioteknologi
Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi/mengatasi akibat buruk
penggunaan bioteknologi antara lain:
1. Penanganan limbah tempe, yang secara sederhana dapat dilakukan dengan
cara:
a. Menampung dan menyaring limbah/air limbah tempe ke dalam sebuah bak.
Kemudian bak ditutup agar tidak menimbulkan bau.
b. Kemudian, mengalirkan air limbah yang sudah disaring ke bak pengumpul.
Pada bakini, air limbah yang berasal dari beberapa kali proses pembuatan tempe
akan bercampur secara merata dan seragam.
c. Terakhir, mengalirkan air limbah yang berasal dari bak penampung, ke bak
kedap udara dan selanjutnya diendapkan selama 20 hari. Didalam bak kedap udara,
benda-benda (polutan) berat yang dapat membahayakan lingkungan diuraikan oleh
mikroorganisme secara alami sehingga menjadi tidak berbahaya.
2. Untuk minuman beralkohol dikenai cukai atau pajak yang tinggi sehingga
harganya mahal. Akibatnya tidak sembarang orang dapat mengonsumsi.Selain itu
juga secara rutin diadakan penyitaan dan pemusnahan minum-minuman keras
terutama yang berkadar alkohol tinggi.
3. Di beberapa negara untuk mengurangi kecelakaan, pengemudi mobil di tes
kadar alkohol dalam darahnya.
E. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan
diatas maka dapat disimpulkan bahwa, Bioteknologi adalah usaha terpadu dari
berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti Mikrobiologi, Genetika, Biokimia,
Sitologi, dan Biologi Molekuler untuk mengolah bahan baku dengan bantuan
mikroorganisme, sel, atau komponen selulernya yang diproleh dari tumbuhan atau
hewan sehingga menghasilkan barang dan jasa.
Bioteknologi
dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu : bioteknologi konvensional (tradisional) dan
bioteknologi modern. Peranan mikroorganisme dalam bioteknologi, yaitu dalam bidang
pangan, dalam bidang pertanian dan perkebunan, dalam bidang peternakan, dalam
bidang kedokteran dan farmasi, dalam bidang lingkungan (bioremediasi), dan
dalam bidang pertambangan (biometalurgi). Bioteknologi bukan hanya
memiliki dampak positif saja, tetapi juga memiliki dampak negatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar